{"id":1812,"date":"2026-04-29T12:34:00","date_gmt":"2026-04-29T05:34:00","guid":{"rendered":"https:\/\/upabahasa.unsil.ac.id\/?p=1812"},"modified":"2026-04-29T16:04:13","modified_gmt":"2026-04-29T09:04:13","slug":"yang-terus-hidup-bahkan-setelah-77-tahun-kematiannya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/upabahasa.unsil.ac.id\/en\/2026\/04\/29\/yang-terus-hidup-bahkan-setelah-77-tahun-kematiannya\/","title":{"rendered":"Yang Terus Hidup, Bahkan Setelah 77 Tahun Kematiannya"},"content":{"rendered":"<p>Kematian seseorang merupakan peristiwa yang sakral dalam banyak budaya, termasuk di Indonesia. Sebagian kelompok masyarakat, memiliki kebiasaan atau prosesi khusus dalam upaya menghormati atau mengantarkan jenazah ke peristirahatan terakhirnya. Sebut saja Rambu Solo\u2019 di Toraja, upacara persembahan bagi orang yang meninggal dengan prosesi utamanya adalah penyembelihan hewan ternak, terutama kerbau. Dalam tradisi Hindu Bali, terdapat upacara Ngaben, yakni proses kremasi jenazah sebagai bagian dari pelepasan menuju kehidupan selanjutnya.<\/p>\n<p>Dalam tradisi Islam pula, penghormatan terhadap orang yang meninggal diwujudkan dengan rangkaian sejumlah praktik keagamaan. Di sebagian kelompok, terdapat tradisi mengenang orang yang telah wafat melalui agenda tertentu, terutama bagi tokoh atau figur berpengaruh seperti kiai. Agenda tersebut biasanya berupa pengajian dan doa bersama yang dilaksanakan setiap tahun, bertepatan dengan atau mendekati tanggal wafat tokoh yang bersangkutan.<\/p>\n<p>Namun, bagaimana jika setiap tahunnya, orang-orang justru mengenang tanggal \u2018kepergian\u2019 seorang penyair? Sosok itu adalah Chairil Anwar, yang hari wafatnya kerap diperingati sebagai Hari Puisi Nasional. Peringatan pada 28 April ini biasanya dilakukan dengan mengadakan kegiatan berupa pembacaan dan apresiasi puisi, ataupun kampanye melalui media sosial. Menilik dari berbagai media, pada tahun ini (2026) sejumlah komunitas dan pegiat sastra mengadakan kegiatan mulai dari ziarah di TPU Karet Bivak, pekan puisi, malam apresiasi puisi di Taman Ismail Marzuki dan tempat lainnya, hingga perlombaan dan berbagai bentuk penghormatan lain di media sosial.<\/p>\n<p>Melihat geliat masyarakat yang ramai mengenang kepergiannya, kita tentu ingat, Chairil pernah menulis, <em>Aku mau hidup seribu tahun lagi<\/em> dalam puisi legendarisnya, \u201cAku\u201d. Larik magis itu kini seolah menemukan maknanya secara nyata. Inilah yang perlu disadari bahwa kekuatan karya dan pemikiran Chairil terus hidup, meskipun secara lahiriah penyair berjuluk \u201cBinatang Jalang\u201d ini telah lama tiada.<\/p>\n<p>Bukan satu hal yang berlebihan jika publik berupaya mengenang sosoknya dengan peringatan itu. Melalui puisi dan pemikirannya, Chairil diakui sebagai pelopor Angkatan 45. Ia dianggap membawa gagasan revolusioner dalam perkembangan puisi di Indonesia. Pakem puisi tradisional didobrak dengan puisi-puisi modernnya yang penuh kebebasan. Dalam karyanya, Chairil menawarkan puisi dalam bahasa yang lebih hidup, ekspresif, dan tidak kaku. Bentuk dan irama yang diciptakan pun berbeda dari pantun, syair, soneta, ataupun sajak-sajak Pujangga Baru. Selain mendobrak sistem dalam penulisan, puisi-puisi Chairil pun memantik semangat bagi rakyat Indonesia dalam menegakkan kemerdekaan pada masanya. Puisi \u201cAku\u201d, \u201cDiponegoro\u201d, dan \u201cKarawang-Bekasi\u201d yang banyak dikenal hingga kini, adalah sebagian dari visi besar yang Chairil bawa.<\/p>\n<p>Puisi-puisi Chairil mengusung lirik yang penuh kedalaman batin tentang individualitas, eksistensialisme, dan keterasingan. Puisi dengan suara liris yang keras, personal, dan menolak tunduk pada pengekangan. Sikap puitik semacam ini membuat karya-karyanya sering dibaca sebagai ekspresi perlawanan dan kebebasan individu.\u00a0 Bahkan dalam <em>Catatan Pinggir-<\/em>nya, Goenawan Mohamad mengatakan bahwa ketika kekuasaan Jepang di Indonesia jatuh, Chairil menyambut dengan teriakan \u201cHoppla!\u201d Sebuah euforia akan kebebasan dari fasisme Jepang yang menumbuhkan budaya paksaan serta sensor dan doktrin pada sastra dan seni yang mesti mengikuti arahan tertentu. Atau, ketika menyatakan &#8220;binatang jalang&#8221; Chairil menggambarkan individu yang hidup di luar norma sosial, tidak terikat oleh aturan dan ketertiban. Keaktifannya dalam belajar bahasa asing seperti bahasa Belanda, Inggris, dan Jerman, membawanya pada kebiasaan membaca dan mempelajari sastra dunia. Di samping gemar melahap buku-buku dari Hogere Burger School (HBS), peristiwa demi peristiwa kehidupan yang Chairil alami menjadi spirit utama membangun kekuatan puisi-puisinya.<\/p>\n<p class=\"cvGsUA direction-ltr align-start para-style-body\"><span class=\"a_GcMg font-feature-liga-off font-feature-clig-off font-feature-calt-off text-decoration-none text-strikethrough-none\">Saat ini, kebanyakan dari kita sering terjebak, puisi diperingati sebatas unggahan kutipan dan poster estetis. Chairil dirayakan, tetapi keberaniannya untuk menggugat ketidakberpihakan jarang benar-benar diteruskan. Pertanyaan yang perlu kita renungkan kini adalah, sejauh mana keteladanan dari sosok yang dikenang setiap tahun benar-benar dihidupi? Ataukah peringatan kemarin, hari ini, lusa, bahkan tahun depan, dan seterusnya hanya sekadar ritual pengulangan tanpa suara-suara lantang seperti <\/span><span class=\"a_GcMg font-feature-liga-off font-feature-clig-off font-feature-calt-off text-decoration-none text-strikethrough-none\">yang pernah Chairil gaungkan?<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Sumber Referensi<\/strong><\/p>\n<p>Goenawan, M. (2010). <em>Catatan pinggir 9: Kumpulan Catatan Pinggir di majalah Tempo, Juli 2007\u2013Desember 2010<\/em>. Tempo Publishing.<\/p>\n<p>Gamal, M. (2022, July 31). Chairil Anwar: Sang pembawa pengaruh besar sastra Indonesia. <em>Kompasiana<\/em>.<\/p>\n<p>Pahmi, Z. (2025). Aku sebagai manifesto kebebasan: Kajian pragmatik puisi Chairil Anwar. <em>Journal of Linguistics and Language Teaching, 1<\/em>(1), 10\u201316.<\/p>\n<p>RRI Sorong. (2025, April 23). Mengenal sejarah dan makna Hari Puisi Nasional, 28 April. <em>RRI.co.id<\/em>.<\/p>\n<p>Sutjianingsih, S. (2009). <em>Chairil Anwar: Hasil karya dan pengabdiannya<\/em>. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala, Direktorat Nilai Sejarah.<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kematian seseorang merupakan peristiwa yang sakral dalam banyak budaya, termasuk di Indonesia. Sebagian kelompok masyarakat, memiliki kebiasaan atau prosesi khusus dalam upaya menghormati atau mengantarkan jenazah ke peristirahatan terakhirnya. Sebut saja Rambu Solo\u2019 di Toraja, upacara persembahan bagi orang yang meninggal dengan prosesi utamanya adalah penyembelihan hewan ternak, terutama kerbau. Dalam tradisi Hindu Bali, terdapat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":1813,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[55],"tags":[],"class_list":["post-1812","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-https-upabahasa-unsil-ac-id-news-article"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/upabahasa.unsil.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1812","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/upabahasa.unsil.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/upabahasa.unsil.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/upabahasa.unsil.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/upabahasa.unsil.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1812"}],"version-history":[{"count":8,"href":"https:\/\/upabahasa.unsil.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1812\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1822,"href":"https:\/\/upabahasa.unsil.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1812\/revisions\/1822"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/upabahasa.unsil.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1813"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/upabahasa.unsil.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1812"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/upabahasa.unsil.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1812"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/upabahasa.unsil.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1812"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}