Who We Are
At the beginning, UPA Bahasa was called Lembaga Bahasa Universitas Siliwangi, or LBUS. LBUS was built firstly in 1992 by one of the English lecturers, Mrs. Din. She initiated Lembaga Bahasa in Universitas Siliwangi to facilitate academicians in Siliwangi University to learn English.
There are some programs that were done in LBUS, those are Teacher Development Workshop, English for Professionals, Creative Teaching and World English. The World English program was the special program of English course (General English) that was aimed to everyone whether inside or outside Siliwangi University.
Especially in General English program (GE), in 2004, LBUS got the help from native speaker and some lecturers from English Education Department as teachers. The facilities owned by LBUS were 1 staff room and 1 classroom.

Knowledge Center
Effective communication and collaboration within the team can help harness these qualities and drive the team towards its goals.

Kematian seseorang merupakan peristiwa yang sakral dalam banyak budaya, termasuk di Indonesia. Sebagian kelompok masyarakat, memiliki kebiasaan atau prosesi khusus dalam upaya menghormati atau mengantarkan jenazah ke peristirahatan terakhirnya. Sebut saja Rambu Solo’ di Toraja, upacara persembahan bagi orang yang meninggal dengan prosesi utamanya adalah penyembelihan hewan ternak, terutama kerbau. Dalam tradisi Hindu Bali, terdapat

Setiap tanggal 23 April, dunia memperingati Hari Buku Sedunia, sebuah momentum global yang diinisiasi oleh UNESCO dalam mendorong budaya membaca, penerbitan, serta penghargaan terhadap karya intelektual. Perayaan ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan pengingat bahwa buku memiliki peran penting dalam membangun peradaban manusia. Penghubung antara masa lalu dan masa depan, antara pengalaman yang telah terjadi

Siapa yang tak kenal dengan kalimat “Habis Gelap Terbitlah Terang”? Sebuah ungkapan yang lahir dari gejolak batin dan pemikiran seorang perempuan Jawa di tengah keterbatasan pada zamannya. Raden Adjeng Kartini, bukan hanya simbol emansipasi perempuan, tetapi juga sosok yang menjadikan bahasa dan pendidikan sebagai fondasi perjuangan sosial. Lahir pada 1879 di Jepara, Kartini tumbuh dalam