Memasak sebagai Gerbang Mengenal Bahasa dan Budaya

Libur semester bukan melulu soal pulang kampung atau memberi jeda dari rutinitas pembelajaran. Bagi sejumlah mahasiswa Universitas Siliwangi, masa libur justru menjadi momentum yang lebih hidup dan bermakna. Bagaimana tidak, melalui program Multilingua Camp, mahasiswa berkesempatan untuk belajar bahasa asing secara intensif. Program yang digagas oleh UPA Bahasa Universitas Siliwangi ini merupakan program peningkatan kemampuan berbahasa asing melalui pendekatan tematik. Setiap pekan dalam bulan Juni akan diisi dengan tema yang berbeda. Mahasiswa pun diperbolehkan memilih lebih dari satu tema sesuai dengan minat masing-masing.

Pekan pertama diawali dengan tema Cooking Adventure. Memasak dianggap sebagai pintu masuk yang efektif bagi pengenalan bahasa dan kebudayaan dunia. Sebab memasak, sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari dan merupakan hal yang universal. Dari “dapur”, peserta diajak mengenal kosakata alat, bahan, resep, dan makanan itu sendiri. Bahkan, kalimat-kalimat instruktif dan prosedural, serta budaya makan pun menjadi hal yang tak luput untuk dikenalkan.

Berlangsung pada 8–12 Juni, peserta secara berurutan mendapatkan pelatihan dari kelas bahasa Arab, Jepang, Jerman, dan Inggris. Pada pertemuan terakhir, peserta melakukan pengayaan dari keempat bahasa tersebut. Secara umum, tujuan setiap kelas bahasa adalah mengenalkan pola komunikasi dasar sekaligus melatih empat keterampilan berbahasa. Proses belajar yang interaktif dan diselingi permainan edukatif membuat peserta semakin mudah memahami setiap hal yang dipelajari.

Kartu-kartu dan slide bergambar menjadi awal bagi peserta dalam mengamati dan mengidentifikasi kosakata. Peserta kemudian diajak untuk praktik berkomunikasi, baik melalui simulasi jual beli bahan makanan, menulis dan membaca resep, maupun prosedur dalam memasak. Metode praktik secara langsung menjadikan peserta lebih berani berkomunikasi dan cepat mengingat kosakata maupun instruksi dalam aktivitas memasak.

Di kelas bahasa Jepang, pelajaran bukan hanya sebatas pengenalan alat dan bahan makanan, melainkan juga ungkapan-ungkapan dalam budaya makan di Jepang. Ungkapan tersebut antara lain itadakimasu, gochisousama deshita, dan oishii. Sementara itu, pada kelas bahasa Jerman, peserta diajak memahami budaya waktu makan. Mereka belajar menentukan jenis makanan yang cocok sesuai dengan waktu makannya.

Setelah mengikuti empat rangkaian kelas bahasa, kemampuan peserta pun diuji dalam Final Meeting. Pada pertemuan terakhir ini, peserta dibagi ke dalam kelompok-kelompok untuk membuat makanan cepat saji berdasarkan negara yang dipilih melalui undian. Setiap kelompok kemudian mempresentasikan hasil karya menggunakan bahasa yang telah ditentukan. Saat itulah kelas seolah berubah menjadi dapur kompetisi memasak internasional yang penuh keseruan. Para peserta pun saling bersaing menjadi yang terbaik. Di akhir kegiatan, setiap kelompok berkesempatan mencicipi dan menanggapi hasil kreasi dari kelompok lainnya.

Keseruan dan antusiasme yang tercipta di kelas bahkan sudah terlihat jauh sebelum kelas dimulai. Tercatat, sebanyak 68 peserta mendaftar Cooking Adventure, dan 30 peserta berhasil lolos seleksi hingga bertahan sampai tahap akhir. Kesan dan tanggapan peserta setelah mengikuti program ini pun menunjukkan respons yang sangat baik. Peserta merasa puas. Bahkan, tidak sedikit peserta berharap agar Multilingua Camp terus berlanjut untuk mengisi setiap masa libur semester sekaligus memelihara produktivitas mahasiswa.

Respons dan tanggapan positif dari peserta tentu tidak lepas dari berbagai elemen pendukung. Instruktur yang berpengalaman, media dan metode pembelajaran yang interaktif, serta fasilitas pendukung lainnya menjadi satu sinergi penting dalam menciptakan kelas yang menyenangkan dan berdampak.

Wah, seru sekali, ya, Linguans. Jangan lupa pantau terus informasi seru lainnya seputar Multilingua Camp!

See you 😊

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *