“Rame banget, kayak di pasar!” Ungkapan itu sering muncul ketika seseorang merasa suasana di sekitarnya terlalu bising dan riuh. Namun, alih-alih menghindari keramaian tersebut, UPA Bahasa Universitas Siliwangi justru menghadirkannya ke dalam ruang pembelajaran. Ruang kelas benar-benar berubah menjadi pasar yang hidup. Setiap sudut dipenuhi proses transaksi dan tawar-menawar. Bukan sekadar ramai, suasana itu justru membuat masa liburan terasa lebih bermakna.
Keramaian tersebut hadir sejak hari pertama pelaksanaan pelatihan bahasa asing bertema belanja, Shopping Quest. Shopping Quest merupakan tema kedua dalam rangkaian kegiatan Multilingua Camp 2026. Sama seperti tema sebelumnya, agenda pada pekan kedua ini dirancang agar peserta memperoleh pengalaman berkomunikasi melalui praktik secara langsung. Melalui simulasi berbelanja, peserta diajak belajar bahasa asing lewat situasi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Pemilihan tema belanja pun bukan tanpa alasan. Hampir semua peserta tentu memiliki pengalaman dalam aktivitas jual beli. Karena itu, praktik berbelanja dianggap menjadi pendekatan yang relevan untuk melatih kemampuan komunikasi. Tidak hanya memperkaya kosakata, peserta juga belajar menggunakan bahasa secara natural dalam situasi nyata.

Pertemuan pertama diawali oleh kelas Bahasa Arab. Selain mempelajari pola komunikasi dan kosakata dalam transaksi jual beli, peserta juga dikenalkan pada berbagai barang khas Arab, mulai dari perhiasan, pakaian tradisional, parfum, hingga dupa yang menjadi salah satu barang paling diburu di pasar tradisional Arab. Tidak berhenti di situ, instruktur juga mengenalkan adab berbelanja di pasar Arab, mulai dari nada bicara hingga kontak mata saat bertransaksi.
Keseruan dari kelas bahasa Arab pun berlanjut pada kelas bahasa Inggris. Tidak hanya mempelajari kosakata dasar, peserta juga dikenalkan pada berbagai verba operasional dan istilah dalam online shopping. Salah satu sesi yang paling menarik adalah “Shopping Math Challenge”. Dalam sesi ini, kemampuan membaca (reading) dan menyimak (listening) peserta diuji melalui pemecahan masalah transaksi berbelanja. Selain itu, peserta juga mempelajari idiom-idiom unik, seperti cost an arm and a leg untuk menggambarkan harga barang yang sangat mahal, serta shopaholic untuk menyebut seseorang yang gemar berbelanja.
Suasana praktik jual beli semakin terasa hidup pada kelas bahasa Jepang. Untuk mendukung simulasi transaksi, instruktur menghadirkan replika uang yen agar pembelajaran terasa lebih nyata. Melalui media tersebut, peserta tidak hanya mengenal kosakata baru, tetapi juga belajar angka, bilangan, serta nilai mata uang yen secara langsung. Pembelajaran semakin seru ketika diselingi permainan interaktif. Peserta diberikan misi untuk menghabiskan sejumlah uang dengan membeli barang di pasar atau toko simulasi. Sementara itu, peserta yang berperan sebagai penjual harus melayani pembeli dengan ramah, sebagaimana budaya dalam transaksi di Jepang. Permainan ini menjadi cara yang menyenangkan untuk melatih kemampuan komunikasi peserta.

Tidak jauh berbeda dengan kelas bahasa Jepang, peserta kelas bahasa Jerman juga belajar mengenai transaksi dan finansial melalui sesi Zahlen & Preis Quest. Dalam sesi ini, peserta belajar menyebutkan angka hingga ribuan sekaligus melatih pelafalan harga, baik dalam mata uang rupiah maupun euro. Setelah itu, mereka mempraktikkan simulasi transaksi di beberapa toko sederhana, seperti Toko Makanan (Essen) dan Toko Pakaian (Kleidung).
Puncak kegiatan berlangsung pada Final Meeting. Dalam sesi ini, peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk membuat toko sederhana yang merepresentasikan negara masing-masing, mulai dari Toko Indonesia, Toko Inggris, Toko Arab, Toko Jepang, hingga Toko Jerman. Setiap kelompok mendekorasi toko dan membuat replika maupun gambar produk khas dari negara yang mereka wakili. Setelah itu, mereka mempresentasikan konsep toko masing-masing, melakukan praktik jual beli dan promosi dengan bahasa negara terkait, termasuk melalui media sosial. “International Market” dadakan itu memberikan suasana belajar yang menyenangkan pada setiap peserta.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, peserta mengaku memperoleh pengalaman belajar yang berkesan. Tidak hanya belajar teori di dalam kelas, tetapi juga merasakan langsung praktik komunikasi dan seni tawar-menawar menggunakan bahasa asing dengan cara yang lebih menyenangkan dan interaktif.
Wah, Linguans, tema kedua saja sudah sangat seru sekali. Jadi semakin penasaran dengan kejutan pada tema ketiga di pekan berikutnya. Ikuti terus informasi seputar Multilingua Camp 2026, ya!




Leave a Reply