Ada Peaky Blinders di Final Meeting pekan ketiga Multilingua Camp? Tenang, mereka bukanlah geng kriminal yang pernah menguasai Brimingham, pada awal abad ke-20. Peaky Blinders di sini adalah salah satu kelompok peserta Multilingua Camp, tema City Explorer. Kelompok yang terdiri dari tiga peserta itu, kompak memakai overcoat atau jubah panjang dan pakaian yang identik digunakan di Inggris pada masanya. Pemilihan konsep tersebut tentu sangat tepat mengingat penjelajahan menjadi inti dalam Final Meeting memecahkan misi kebahasaan. Tak mau kalah, peserta yang lain pun turut meramaikan pertemuan terakhir tema tiga ini dengan kostum modifikasi bernuansa Arab, Jepang, Jerman, dan Indonesia.

Sesuai dengan namanya, City Explorer mengajak para peserta menjadi kelompok penjelajah. Melalui pembelajaran yang dikemas dengan tema petualangan, peserta didorong untuk menggunakan kemampuan berbahasa, khususnya bahasa asing dalam berbagai situasi yang mereka temui selama perjalanan. Mereka diajak menyelesaikan berbagai tantangan komunikasi untuk mencapai misi tertentu sekaligus mengenali lingkungan dengan lebih bermakna. Meskipun penjelajahan kota dimodifikasi menjadi penjelajahan kampus, hal itu tidak mengurangi semangat para peserta yang telibat.
Sejak awal, suasana smart classroom sudah dipenuhi semangat peserta yang saling menyahut meneriakkan yel-yel kelompok sebelum penjelajahan dimulai. Luapan semangat ini pun seolah menjadi syarat untuk menerima checkpoint clue yang menentukan titik awal perjalanan masing-masing. Sistem ini membuat setiap kelompok memulai penjelajahan dari lokasi berbeda sehingga pergerakan peserta tersebar di berbagai sudut kampus. Dari satu titik, peserta kemudian mendapatkan petunjuk baru menuju titik berikutnya. Petunjuk menuju checkpoint disusun melalui simbol dan permainan bahasa untuk mendeskripsikan lokasi tertentu. Karena itu, peserta tidak hanya bergerak dari pos ke pos, tetapi juga harus mampu menafsir simbol dengan cermat.

Pada pos memory game, peserta diajak mencocokkan kosakata bahasa asing dengan terjemahan yang tepat. Permainan ini bukan hanya menguji daya ingat, tetapi juga melatih peserta memahami keterkaitan makna antarbahasa yang telah dipelajari sebelumnya. Beralih ke pos bahasa Inggris, suasana berubah semakin riuh melalui permainan taboo. Peserta diminta mendeskripsikan sebuah tempat tanpa menyebutkan kata yang tercantum dalam kartu. Dari permainan ini, peserta dituntut lebih kreatif memilih kosakata yang berbeda agar pesan tetap sampai pada anggota kelompoknya.
Keseruan lain hadir di pos bahasa Jerman melalui permainan human maze. Dalam tantangan ini, salah satu anggota kelompok bertugas memberi arahan kepada rekannya untuk menemukan lokasi berdasarkan deskripsi yang diberikan. Permainan yang menuntut ketelitian mendengar dan menyampaikan instruksi dengan jelas dalam bahasa Jerman.

Suasana berbeda terasa ketika peserta memasuki pos bahasa Jepang. Di pos ini, peserta diperlihatkan nama kota dalam huruf hiragana dan diminta menebak cara membacanya dengan bantuan daftar huruf yang disediakan. Aktivitas tersebut membuat peserta semakin akrab dengan sistem penulisan bahasa Jepang. Sama halnya dengan pos bahasa Jepang, pengalaman mengenali sistem tulisan juga ditemui pada pos bahasa Arab. Bedanya, peserta lebih diarahkan untuk menyusun kosakata bahasa Arab menjadi bentuk yang tepat. Dari setiap pos yang berhasil diselesaikan, peserta memperoleh sejumlah huruf yang nantinya harus dirangkai pada akhir kegiatan. Kelompok yang berhasil menyusun huruf menjadi kata yang tepat, akan menjadi juara dalam permainan.
Sebelum sampai pada Final Meeting, seluruh peserta terlebih dahulu dibekali pengetahuan bahasa asing pada pertemuan-pertemuan sebelumnya. Karena konsep Final Meeting kali ini mengusung penjelajahan, materi pembelajaran pun difokuskan pada kemampuan bertanya dan memberikan petunjuk arah, mengenal kosakata terkait fasilitas umum dan lokasi tempat, sampai melakukan percakapan sederhana yang sering digunakan saat bepergian. Dengan bekal tersebut, Final Meeting bukan hanya penutup rangkaian pembelajaran, tetapi menjadi ruang untuk mencoba bahasa secara lebih nyata. Setiap sudut kampus pun terasa lebih berbeda. Sebuah pengalaman berkesan bagi para peserta dalam eksplorasi kota dan kata.



Tinggalkan Balasan